Tugu Khatulistiwa
~Salah satu tugu di Indonesia dengan perawatan yang lumayan.
~Sebenernya banyak blog yang memuat artikel yang sama persis dan tanpa mencantumkan sumbernya. Jadi blog siapa yang menyalin blog siapa udah ga jelas asal usulnya. Anyway, thanks for copy-paste blogs.
Ngomong ngomong, udah nulis banyak trus gua baru sadar kalo fotonya ini di Macau bukan RRC. Ya udah gpp lah ya. Orang Amerika aja bilang semua orang Jepang Korea China Asean dengan satu sebutan: Asia.
Terbang dari Kuala Lumpur menuju Hongkong dengan Air Asia selama 4 jam. Dalam tiga deret kursi yang ada, saya duduk bersebelahan hanya dengan wanita pirang di usia akhir 20an. Seperti yang kita ketahui, penerbangan berbiaya rendah memerlukan banyak kompensasi. Mulai dari bandara yang terpisah, pembatasan bagasi, dan tidak adanya makanan gratis di atas pesawat.
Pilot telah memacu mesin sampai dengan ketinggian tertentu yang tidak saya dengarkan dengan baik sebelumnya. Entah berapa ribu kaki di atas daratan. Wanita-wanita berbalut baju merah dan berhak tipis mulai mengeluarkan dorongan mereka setelah lampu peringatan dimatikan. Gerobak yang tampak modern itu menjajakan makanan-makanan bagi penumpang yang harus memenuhi kebutuhan perutnya. Saya, yang punya waktu banyak sebelum terbang dan tahu persis seperti apa situasi di atas langit sudah bersiap dengan perut penuh dan beberapa perbekalan sesuai selera.
Wanita pirang itu tampak sudah terbiasa dengan penerbangan jarak jauh. Bantal penyangga leher, alat pemutar musik, buku bacaan, serta kain tipis sebagai selimut sudah dia posisikan dengan sempurna. Tak ada satu tatapan matapun kami pertukarkan. Saya yang memang sudah cukup lelah karena berangkat sejak pagi dari Bandung tak sabar untuk menyandarkan kursi dan segera menutup mata. Tak kalah dengan dia, kain tipis, pemutar musik, dan kaos kaki sudah saya siapkan untuk menyempurnakan sandaran kursi. Tak perlulah bertutur ramah karena budaya kami berbeda. Lebih baik diam dan mengistirahatkan diri masing-masing.
Tanpa sepatah kata, ia menunggu kami bertukar pandang dan memberi isyarat bahwa dia butuh ruang untuk ke bagian belakang pesawat. Posisi sempurna yang sudah saya siapkan pun harus rela buyar untuk memberi jalan. Menunggu beberapa saat sampai dia kembali dan saya bisa kembali ke posisi sempurna itu. Memejamkan mata dan siap membunuh waktu selama 4 jam ke depan dengan alam mimpi.
Di tengah kesadaran, saya tahu ada percakapan yang terjadi antara telinga kanan dan kiri. Dua orang yang berbeda. Si wanita pirang itu dengan entah siapa di lorong jalan. Wanita juga. Sayup-sayup terdengar tentang menu makanan. Oh, gerobak tadi akhirnya tiba juga di deretan kursi kami yang nyaris berada di seperempat bagian belakang dari badan pesawat pikirku. Sepertinya ada masalah. Perlahan dan tak ingin mengganggu mereka, kubuka mata dan pura-pura tidak peduli.
"Which one is not spicy?"
"Sorry mam, we don't have any no spicy meals left. Maybe you can try this one. This is the least spicy that we have."
"Ok. I take this. Can I pay with US Dollar?"
"No problem. *after got the money* Sorry mam, but we only can give you Ringgit for change."
"Oh, but I don't need Ringgit anymore. So, what should I do?"
"Maybe do you have Ringgit left?"
"I don't have much. Only 3 Ringgit and some coins."
Di tengah ketidak sadaran dan mencoba menerka situasi yang terjadi, rupanya wanita itu hanya punya pecahan 20 US Dollar. Di mana itu jumlah yang cukup besar jika digunakan untuk membayar makanan yang tidak seberapa harganya dan dikembalikan dalam wujud Ringgit dimana dia tidak membutuhkan mata uang itu lagi.
"Excuse me, but how much is this?"
"Thirteen Ringgit."
"Thirty?"
"No. Thirteen. One three."
"Oh, ok. I have 10 Ringgit. Maybe.."
"But how can i pay you back?"
"That's ok. Just 10 Ringgit. Maybe you have Hongkong Dollars?"
"No no. I don't have HK Dollars but I have to pay you back."
"Maybe you can pay her back at the airport. We have some money changers there."
"Yeah. You can pay me back at the airport. Ok?"
"Ok. *after she have the meal* I am sorry but I am really hungry. Just flew from Jakarta and right after that I have to take this plane so I haven't had my meal since this morning."
"And you don't even have Hongkong Dollar?"
"Oh, I just stop over in Hongkong to Brazil."
"Ohhh. I see."
"Let me check my money. *she showed me her wallet*"
*saw that she only have IDR 10.000, RM 3, USD 1, and some coins.* "It's ok. This IDR 10.000 same value with 3 RM so do this USD. I am from Indonesia. So IDR it's oke for me."
"Thank you so much. Do you want some?"
"No. Thanks. Just enjoy your meal."
Kulihat tatapannya. Tatapan terpesona. Dia dapat mengisi perutnya hanya dengan receh-receh yang tersisa dari kunjungannya beberapa saat yang lalu. Luar biasa. Dimana lagi dia bisa mendapatkan makanan dengan tiga mata uang yang berbeda dan masing-masing bernilai tidak seberapa. Bagi saya, tidak ada ruginya. Toh uang itu akan tetap saya gunakan nantinya. Dan kami berdua, yang sebelumnya terlalu malu untuk bahkan bertukar pandang pun berbagi cerita tentang apa yang kami kerjakan. Secukupnya memang. Karena itulah budayanya dan kebiasanku.
Kadang saya takut bertindak meskipun saya tahu itu tidak salah. Saya hanya takut salah paham. Takut mengecewakan dan menyakiti pihak seberang. Ketakutan. Kecemasan. Dua hal yang harus saya hilangkan tahun ini. Dan tanpa saya sadari telah saya lakukan bahkan sebelum ada yang memaksa saya untuk berubah. Semakin banyak spontanitas akan semakin banyak kejutan dan memori yang tersimpan. Be yourself, asertif, and more spontaneous starting from today till the day i leave this world.
Sudah 20 menit. Aku ditemani hembusan angin di atas kepala serta deretan kursi kosong. Sesekali kubuka lembaran buku di sana. Memaksakan mata untuk membaca meskipun pikiranku entah dimana. Selama itu pulalah pikiranku kosong. Aku tak tahu untuk apa aku duduk di sini. Untuk dirikukah. Untuk keluargakah. Atau untukmu.
Sesekali tampak wanita wanita berhak tipis berlalu lalang. Pria-pria pun tak mau kalah. Sebagian besar pikiranku dipenuhi prasangka apa yang sebenarnya membuat mereka tetap mau berlalu lalang. Haruskah aku sembunyikan kodratku untuk ikut berlalu lalang bersama mereka.
Tak lama, kursi-kursi itu mulai terisi. Mereka, dengan entah apa yang dipikirkannya duduk rapi dan sama sepertiku mencoba menyibukkan mata agar tetap bekerja. Pintu terbuka, dan aku harus berjalan. Mencoba berlalu lalang bersama mereka tanpa tahu untuk apa kaki ini melangkah. Pikiranku kosong. Sampai seorang diujung sana bersama rekannya berkata padaku, “Kodratmu sebagai wanita, harus mampu menjaga keluarga.” Saat itu juga, pikiranku serasa penuh. Kepala yang kosong ini tiba-tiba harus bekerja keras. Tidak hanya untuk berpikir tapi juga memikirkan. Satu kalimatmu begitu berarti bagiku. Membuat mata yang disibukkan ini terbelalak. Membuat hati yang tak pernah bertanya padaMu ini harus bangun kembali. Memang benar bahwa bahasa menyatukan manusia dengan jiwanya.