Bahasa

Sudah 20 menit. Aku ditemani hembusan angin di atas kepala serta deretan kursi kosong. Sesekali kubuka lembaran buku di sana. Memaksakan mata untuk membaca meskipun pikiranku entah dimana. Selama itu pulalah pikiranku kosong. Aku tak tahu untuk apa aku duduk di sini. Untuk dirikukah. Untuk keluargakah. Atau untukmu.

Sesekali tampak wanita wanita berhak tipis berlalu lalang. Pria-pria pun tak mau kalah. Sebagian besar pikiranku dipenuhi prasangka apa yang sebenarnya membuat mereka tetap mau berlalu lalang. Haruskah aku sembunyikan kodratku untuk ikut berlalu lalang bersama mereka.

Tak lama, kursi-kursi itu mulai terisi. Mereka, dengan entah apa yang dipikirkannya duduk rapi dan sama sepertiku mencoba menyibukkan mata agar tetap bekerja. Pintu terbuka, dan aku harus berjalan. Mencoba berlalu lalang bersama mereka tanpa tahu untuk apa kaki ini melangkah. Pikiranku kosong. Sampai seorang diujung sana bersama rekannya berkata padaku, “Kodratmu sebagai wanita, harus mampu menjaga keluarga.” Saat itu juga, pikiranku serasa penuh. Kepala yang kosong ini tiba-tiba harus bekerja keras. Tidak hanya untuk berpikir tapi juga memikirkan. Satu kalimatmu begitu berarti bagiku. Membuat mata yang disibukkan ini terbelalak. Membuat hati yang tak pernah bertanya padaMu ini harus bangun kembali. Memang benar bahwa bahasa menyatukan manusia dengan jiwanya.

I wish I could say that

John Watson: Don't do that. 
Sherlock Holmes: Do what? 
John Watson: The look. 
Sherlock Holmes: Look? 
John Watson: You are doing the look again. 
Sherlock Holmes: I can't see it, can I? 
[looks into the mirror
Sherlock Holmes: It's my face. 
John Watson: Yes and it's doing a thing. You're doing a 'We both know what's going on'-face. 
Sherlock Holmes: We do. 
John Watson: No, I don't, which is why I find the face so annoying. 

~Sherlock: The Reichenbach Fall (2012)


Wa(h)rung Barokha

-197458503

Yang namanya bangsa Asia Timur/Tengah (bukan Timur Tengah), meskipun sama-sama Asia, tetep aja makanan tuh ga masuk ya. Mau orang bilang seenak apapun, semahal apapun, yang namanya mental pecel lele,lotek, gado-gado dan sejenisnya mah tetep aja juaranya. Jadi, sebagaimana perjalanan biasanya, makanan tuh harus halal dan kunyahable. Nyari halal ya masih bisa lah ya,nah nyari yang kunyahable itu yang susah.

Wa(h)rung Barokha ini ditemukan seperti menemukan jarum dalam tumpukan jerami Kota Macau. Susah bener. Kudu nanya 2-3 rombongan mbak mbak TKW baru bisa nemu. Kalau biasanya, di Arab atau Malaysia TKW diremehkan, kalau di sini mereka mereka itu penyelamat. Mereka tau betul mana tempat temen temen mereka jualan masakan Indonesia. Meskipun tempatnya kecil, tapi lengkap banget dan mungkin ini adalah warung terbesar di Macau (berapa Macau berapa luas). Mereka jual banyak hal,mulai dari tabloid, keripik tempe, rengginang, kembang goyang, gado-gado, ayam goreng, sampai kiranti (gua jadi sangsi apa ada kiranti versi orang-orang luar ya?). Selain itu, mereka juga rekanan BNI gitu, jadi kayaknya sih bisa kirim uang lewat mereka. Suasana di dalamnya padat merayap, wajarlah karena harga tanah di sana selangit. Lantai 1 supermarket mini,lantai 2 meja meja untuk makan dan ada dvd karaoke juga, lantai 3 dst kamar kamar mereka.

Kalo melihat perjuangan, semangat, dan keberhasilan mereka di negeri seberang sana, rasanya jadi salut dan ga semua tenaga kerja kita itu gampang dibodoh bodohi. Banyak dari mereka yang pinter dan bahkan bisa buka usaha sendiri dengan melihat peluang yang ada.
Untuk yang mau tahu alamat lengkapnya, silahkan kontak pribadi aja ya, karena menjelaskan di sini ribet cing.

~Masih banyak cerita lainnya dari tenaga kerja kita disana.

Januari #2

Aku yang diam diam
Tak lagi merangkai kata
Menggerakkan lidah
Membentuk pikiran

Berpikir untuk apa beriak
Ketika semua telah tahu ada apa di dalamnya
Dangkal belum tentu tak berguna
Tak akan ada dalam yang tak dibuatnya

Membuat cara pandang
Tak lagi sekadar melihat dari sudut yang ada
Mencari dimana sudut
Yang tak akan pernah melukai

Tak ada luka yang tak perih
Tak ada darah tanpa memori
Memori tidak selalu indah
Tapi yang dapat diungkapkan

Tidak semuanya dapat terucap..

~nam un.

Toy Story Land

Kebetulan, pas gua ke sana. Eh baru aja dibuka Toy Story Land. Katanya area ini dibuka untuk menarik minat lagi orang-orang yang udah bosen ke Disneyland dan menyebabkan taman bermain ini rugi cukup besar beberapa tahun belakangan. Ini dia tiga wahana baru di Toy Story Land yang disampaikan dengan versi singkat, padat, dan tidak jelas:

1. Slinky Dog Spin 
Ceritanya si anjing mainan ini lagi sibuk mengejar ekornya dia dimana akhirnya terbentuklah pola lingkaran dengan kepala bertemu ekor. Inti pergerakan permainan ini adalah untuk yang badannya jumbo harap di sisi luar karena kasihan nanti temen lo bakal kegencet akibat gaya sentripetal. Selain muter-muter, si anjingnya bergerak agak naik-turun tapi cuma sedikit dan cocok untuk segala usia kecuali usia gampang kleyengan. 

Dsc_0424

2. RC Racer

Layaknya mobil hot wheels yang bisa kelempar-lempar dengan trek berputar-putar. Inti permainan: duduk di dalam kereta (siluet biru di sisi kanan jalur tapal kuda) yang bergerak maju mundur di lajur berbentuk tapal kuda. Mirip kora-kora di Dunia Fantasi, tapi jauh lebih top yang ini karena kita bisa berada di posisi condong ke depan dengan sudut kurang dari 90 derajat. Permainan ini punya rating tertinggi dibandingkan semua wahana di Disneyland. 

Dsc_0473

3. Green Army Parachute

Dalam versi layar lebarnya, ada tokoh-tokoh dengan kaki menyatu di papan yang seperti skateboard dan warnanya hijau. Mereka punya parasut yang biasa dipakai untuk turun dari lemari atau jendela atau meja dan benda-benda tinggi lainnya. Di wahana ini kita (yang duduk manis di kursi per enam orang dengan pola loreng-loreng hijau ala tentara) disuruh ikutan terjun dari ketinggian dengan parasut hijau (boongan, karena sebenernya itu cuma aksesoris parasut). Diliat dari ratingnya sepertinya tidak begitu menakutkan. Apalagi yang antri panjang bener sampe bikin iman gua digoda untuk mundur dan akhirnya tergoda juga. 

Dsc_0490
Tiga wahana ini membuat Disneyland tampak mulai beranjak remaja. Apalagi dengan arsitektur raksasa yang kontras dan sangat kekinian, membuat taman bermain ini tampak awet muda dan sungguh gahul. Terserah orang mau bilang apa, tapi menurut gua kalau mau menikmati area dan dekorasinya, bolehlah. Tapi kalau mau cari permainan menantang, masih kalah jauh dibanding Universal Studio Singapore.

~Sungguh salut sama orang-orang yang bisa mendeskripsikan sesuatu dengan apik.