Bahasa

Sudah 20 menit. Aku ditemani hembusan angin di atas kepala serta deretan kursi kosong. Sesekali kubuka lembaran buku di sana. Memaksakan mata untuk membaca meskipun pikiranku entah dimana. Selama itu pulalah pikiranku kosong. Aku tak tahu untuk apa aku duduk di sini. Untuk dirikukah. Untuk keluargakah. Atau untukmu.

Sesekali tampak wanita wanita berhak tipis berlalu lalang. Pria-pria pun tak mau kalah. Sebagian besar pikiranku dipenuhi prasangka apa yang sebenarnya membuat mereka tetap mau berlalu lalang. Haruskah aku sembunyikan kodratku untuk ikut berlalu lalang bersama mereka.

Tak lama, kursi-kursi itu mulai terisi. Mereka, dengan entah apa yang dipikirkannya duduk rapi dan sama sepertiku mencoba menyibukkan mata agar tetap bekerja. Pintu terbuka, dan aku harus berjalan. Mencoba berlalu lalang bersama mereka tanpa tahu untuk apa kaki ini melangkah. Pikiranku kosong. Sampai seorang diujung sana bersama rekannya berkata padaku, “Kodratmu sebagai wanita, harus mampu menjaga keluarga.” Saat itu juga, pikiranku serasa penuh. Kepala yang kosong ini tiba-tiba harus bekerja keras. Tidak hanya untuk berpikir tapi juga memikirkan. Satu kalimatmu begitu berarti bagiku. Membuat mata yang disibukkan ini terbelalak. Membuat hati yang tak pernah bertanya padaMu ini harus bangun kembali. Memang benar bahwa bahasa menyatukan manusia dengan jiwanya.