Nasib Negara Tropis

Dalam rangka merayakan Hari Natal, kemarin Bandung Supermall mengadakan acara bertema Winter Bear Shimphony. Yang jadi masalah bukanlah acaranya ataupun malnya yang sekarang sedang membangun Trans Studio kedua di Indonesia, tetapi desainnya. Mengapa harus winter? mengapa harus bear? Oke tidak ada masalah dengan kata simphonynya memang. Kita ini kan negara tropis, jangankan salju, suhu minus saja kita tidak pernah (kecuali di gunung Jayawijaya mungkin ya). Kita ini kan terkenal dengan macan, badak, orang utan, dan katanya masuk new 7 wonders - komodo. Kenapa memaksakan harus beruang? Kenapa tidak Rainy Komodo Simphoy? Atau sekalian saja bahasa Indonesia, Simfoni Komodo Musim Hujan, mungkin?? Terdengar sangat ndeso dan nasionalisme sekali. Sangat mendukung euforia Timnas di lapangan hijau. Klop.

Selain itu, di acara ini mereka memaksakan turunnya salju. Oke, sebenarnya bukan salju, tetapi busa-busa sabun dan bulatan-bulatan styrofoam dengan jumlah yang "yaahh lumayan lah setidaknya bisa kelihatan kalau itu pura-puranya salju". Untuk salju yang di tanah, mereka menggunakan dakron (atau kapas keras) yang ditumpuk-tumpuk. Cukup terlihat seperti salju memang (dari jauh). 

Itulah (oknum) Indonesia, sibuk untuk menjadi sama hebatnya dengan negara 4 musim, tapi tidak sadar bahwa kita punya potensi yang tidak dimiliki negara 4 musim itu. Coba bayangkan kalau kita punya acara tahunan dengan tagline "Simfoni Komodo Musim Hujan". Tiba-tiba, saat nanti saya berkunjung ke negara 4 musim, saya melihat sebuah mall mengadakan acara serupa. Dengan tidak mengurangi rasa hormat, tentunya saya akan membuat post serupa dengan judul "Nasib Negara Sub-Tropis". Seandainya saja...