Ngomong ngomong, udah nulis banyak trus gua baru sadar kalo fotonya ini di Macau bukan RRC. Ya udah gpp lah ya. Orang Amerika aja bilang semua orang Jepang Korea China Asean dengan satu sebutan: Asia.
Terbang dari Kuala Lumpur menuju Hongkong dengan Air Asia selama 4 jam. Dalam tiga deret kursi yang ada, saya duduk bersebelahan hanya dengan wanita pirang di usia akhir 20an. Seperti yang kita ketahui, penerbangan berbiaya rendah memerlukan banyak kompensasi. Mulai dari bandara yang terpisah, pembatasan bagasi, dan tidak adanya makanan gratis di atas pesawat.
Pilot telah memacu mesin sampai dengan ketinggian tertentu yang tidak saya dengarkan dengan baik sebelumnya. Entah berapa ribu kaki di atas daratan. Wanita-wanita berbalut baju merah dan berhak tipis mulai mengeluarkan dorongan mereka setelah lampu peringatan dimatikan. Gerobak yang tampak modern itu menjajakan makanan-makanan bagi penumpang yang harus memenuhi kebutuhan perutnya. Saya, yang punya waktu banyak sebelum terbang dan tahu persis seperti apa situasi di atas langit sudah bersiap dengan perut penuh dan beberapa perbekalan sesuai selera.
Wanita pirang itu tampak sudah terbiasa dengan penerbangan jarak jauh. Bantal penyangga leher, alat pemutar musik, buku bacaan, serta kain tipis sebagai selimut sudah dia posisikan dengan sempurna. Tak ada satu tatapan matapun kami pertukarkan. Saya yang memang sudah cukup lelah karena berangkat sejak pagi dari Bandung tak sabar untuk menyandarkan kursi dan segera menutup mata. Tak kalah dengan dia, kain tipis, pemutar musik, dan kaos kaki sudah saya siapkan untuk menyempurnakan sandaran kursi. Tak perlulah bertutur ramah karena budaya kami berbeda. Lebih baik diam dan mengistirahatkan diri masing-masing.
Tanpa sepatah kata, ia menunggu kami bertukar pandang dan memberi isyarat bahwa dia butuh ruang untuk ke bagian belakang pesawat. Posisi sempurna yang sudah saya siapkan pun harus rela buyar untuk memberi jalan. Menunggu beberapa saat sampai dia kembali dan saya bisa kembali ke posisi sempurna itu. Memejamkan mata dan siap membunuh waktu selama 4 jam ke depan dengan alam mimpi.
Di tengah kesadaran, saya tahu ada percakapan yang terjadi antara telinga kanan dan kiri. Dua orang yang berbeda. Si wanita pirang itu dengan entah siapa di lorong jalan. Wanita juga. Sayup-sayup terdengar tentang menu makanan. Oh, gerobak tadi akhirnya tiba juga di deretan kursi kami yang nyaris berada di seperempat bagian belakang dari badan pesawat pikirku. Sepertinya ada masalah. Perlahan dan tak ingin mengganggu mereka, kubuka mata dan pura-pura tidak peduli.
"Which one is not spicy?"
"Sorry mam, we don't have any no spicy meals left. Maybe you can try this one. This is the least spicy that we have."
"Ok. I take this. Can I pay with US Dollar?"
"No problem. *after got the money* Sorry mam, but we only can give you Ringgit for change."
"Oh, but I don't need Ringgit anymore. So, what should I do?"
"Maybe do you have Ringgit left?"
"I don't have much. Only 3 Ringgit and some coins."
Di tengah ketidak sadaran dan mencoba menerka situasi yang terjadi, rupanya wanita itu hanya punya pecahan 20 US Dollar. Di mana itu jumlah yang cukup besar jika digunakan untuk membayar makanan yang tidak seberapa harganya dan dikembalikan dalam wujud Ringgit dimana dia tidak membutuhkan mata uang itu lagi.
"Excuse me, but how much is this?"
"Thirteen Ringgit."
"Thirty?"
"No. Thirteen. One three."
"Oh, ok. I have 10 Ringgit. Maybe.."
"But how can i pay you back?"
"That's ok. Just 10 Ringgit. Maybe you have Hongkong Dollars?"
"No no. I don't have HK Dollars but I have to pay you back."
"Maybe you can pay her back at the airport. We have some money changers there."
"Yeah. You can pay me back at the airport. Ok?"
"Ok. *after she have the meal* I am sorry but I am really hungry. Just flew from Jakarta and right after that I have to take this plane so I haven't had my meal since this morning."
"And you don't even have Hongkong Dollar?"
"Oh, I just stop over in Hongkong to Brazil."
"Ohhh. I see."
"Let me check my money. *she showed me her wallet*"
*saw that she only have IDR 10.000, RM 3, USD 1, and some coins.* "It's ok. This IDR 10.000 same value with 3 RM so do this USD. I am from Indonesia. So IDR it's oke for me."
"Thank you so much. Do you want some?"
"No. Thanks. Just enjoy your meal."
Kulihat tatapannya. Tatapan terpesona. Dia dapat mengisi perutnya hanya dengan receh-receh yang tersisa dari kunjungannya beberapa saat yang lalu. Luar biasa. Dimana lagi dia bisa mendapatkan makanan dengan tiga mata uang yang berbeda dan masing-masing bernilai tidak seberapa. Bagi saya, tidak ada ruginya. Toh uang itu akan tetap saya gunakan nantinya. Dan kami berdua, yang sebelumnya terlalu malu untuk bahkan bertukar pandang pun berbagi cerita tentang apa yang kami kerjakan. Secukupnya memang. Karena itulah budayanya dan kebiasanku.
Kadang saya takut bertindak meskipun saya tahu itu tidak salah. Saya hanya takut salah paham. Takut mengecewakan dan menyakiti pihak seberang. Ketakutan. Kecemasan. Dua hal yang harus saya hilangkan tahun ini. Dan tanpa saya sadari telah saya lakukan bahkan sebelum ada yang memaksa saya untuk berubah. Semakin banyak spontanitas akan semakin banyak kejutan dan memori yang tersimpan. Be yourself, asertif, and more spontaneous starting from today till the day i leave this world.
Kebetulan, pas gua ke sana. Eh baru aja dibuka Toy Story Land. Katanya area ini dibuka untuk menarik minat lagi orang-orang yang udah bosen ke Disneyland dan menyebabkan taman bermain ini rugi cukup besar beberapa tahun belakangan. Ini dia tiga wahana baru di Toy Story Land yang disampaikan dengan versi singkat, padat, dan tidak jelas:
1. Slinky Dog Spin
Ceritanya si anjing mainan ini lagi sibuk mengejar ekornya dia dimana akhirnya terbentuklah pola lingkaran dengan kepala bertemu ekor. Inti pergerakan permainan ini adalah untuk yang badannya jumbo harap di sisi luar karena kasihan nanti temen lo bakal kegencet akibat gaya sentripetal. Selain muter-muter, si anjingnya bergerak agak naik-turun tapi cuma sedikit dan cocok untuk segala usia kecuali usia gampang kleyengan.
2. RC Racer
Layaknya mobil hot wheels yang bisa kelempar-lempar dengan trek berputar-putar. Inti permainan: duduk di dalam kereta (siluet biru di sisi kanan jalur tapal kuda) yang bergerak maju mundur di lajur berbentuk tapal kuda. Mirip kora-kora di Dunia Fantasi, tapi jauh lebih top yang ini karena kita bisa berada di posisi condong ke depan dengan sudut kurang dari 90 derajat. Permainan ini punya rating tertinggi dibandingkan semua wahana di Disneyland.
3. Green Army Parachute
Dalam versi layar lebarnya, ada tokoh-tokoh dengan kaki menyatu di papan yang seperti skateboard dan warnanya hijau. Mereka punya parasut yang biasa dipakai untuk turun dari lemari atau jendela atau meja dan benda-benda tinggi lainnya. Di wahana ini kita (yang duduk manis di kursi per enam orang dengan pola loreng-loreng hijau ala tentara) disuruh ikutan terjun dari ketinggian dengan parasut hijau (boongan, karena sebenernya itu cuma aksesoris parasut). Diliat dari ratingnya sepertinya tidak begitu menakutkan. Apalagi yang antri panjang bener sampe bikin iman gua digoda untuk mundur dan akhirnya tergoda juga.
Tiga wahana ini membuat Disneyland tampak mulai beranjak remaja. Apalagi dengan arsitektur raksasa yang kontras dan sangat kekinian, membuat taman bermain ini tampak awet muda dan sungguh gahul. Terserah orang mau bilang apa, tapi menurut gua kalau mau menikmati area dan dekorasinya, bolehlah. Tapi kalau mau cari permainan menantang, masih kalah jauh dibanding Universal Studio Singapore.~Sungguh salut sama orang-orang yang bisa mendeskripsikan sesuatu dengan apik.
Untuk
Dia yang tak tahu kapan tertawa itu menyenangkan
Mereka yang tak mau terpukau dengan perkembangan zaman
~Toy Story Land, Januari 2012