Setelah Menikah Itu

Jadi ceritanya ada seorang wanita baru selesai merayakan ritual pernikahannya. Lalu dia menuliskan satu kalimat yang menurut saya tulus namun menunjukkan respek yang luar biasa di blog pribadinya. Siap-siap untuk meneteskan air mata (lebay)...

"Wahai priaku, terima kasih telah menjemputku..."

~Katanya mencari jodoh itu kan memang ibarat menjemput bola

Cuplikan sebuah percakapan

Pria : "I love you."
Wanita : "Kamu tahu kan kalau aku tidak sendiri, mas."
Pria : "Tapi aku tidak pernah memaksamu untuk memilih." 

Percakapan di atas diambil dari sebuah tumblr. Menarik. Ketika kita tahu kita sedang berbuat sesuatu yang salah, namun keduanya sepakat untuk tetap melakukannya. Karena keduanya merasa bahagia. Apakah kebahagiaan adalah batasan bahwa sesuatu itu benar atau salah? 

Dibutuhkan seseorang yang tidak mencari kebahagiaan untuk menyadarkan kita mana yang benar dan mana yang salah. Apakah kebahagiaan hanya dapat diraih dengan cara seperti itu? Tidakkah kita percaya bahwa kebahagiaan itu sesuatu yang subjektif. Banyak yang mengatakan bahagia ketika telah meraih cintanya, ada juga yang bahagia ketika telah menjadi seorang yang kaya. Kalau saya sih, merasa bahagia ketika tidak menyakiti orang lain.

~ Tidak sakit dan bahagia itu dua hal yang berbeda, bukan?