Gw Peserta PP
"Gw peserta PP terlucu."
Cukup. Aku tidak mampu berkata-kata lagi. Sungguh hina dinanya diri ini jaman dulu. Terima kasih PSM, entah apa yang ada dipikiran panitia PP saat itu. Jangan tiru ajang-ajangan seperti ini ya Marpaung!
"Gw peserta PP terlucu."
Cukup. Aku tidak mampu berkata-kata lagi. Sungguh hina dinanya diri ini jaman dulu. Terima kasih PSM, entah apa yang ada dipikiran panitia PP saat itu. Jangan tiru ajang-ajangan seperti ini ya Marpaung!
Walaupun terlambat, tidak apalah ya. Sebenarnya, masih banyak yang lainnya. Tapi dikarenakan satu dan lain hal (orang) jadi cuma bisa ambil 2 foto ini saja. Doakan aku segera menyusul kalian semua. Aamiin.
# Syit. Sisi humanisme diabaikan.
Penyesalan itu memang tidak pernah datang di awal. Coba bayangkan, dalam beberapa menit, dari yang tidak peduli, tiba-tiba jadi menyesal dan merasa itu sebuah kebutuhan. Kenapa? Karena ini satu-satunya kesempatan saya, Kita tidak pernah tahu di depan akan seperti apa.
Jadi,selama bertahun-tahun melanglang buana di dunia perproyekan psm (lebay), bekerja sama dengan banyak pihak, dan menjembatani setiap penampilan psm, saya nyaris tidak pernah menikmati psm sebagai sebuah performansi. Saya malah menganggapnya sebagai sebuah pekerjaan. Tidak lebih. Karena itu bagi saya, tampil baik itu perlu. Tidak untuk memuaskan penonton, tapi lebih untuk menjalin komunikasi dengan penyelenggara. Selama sekian kali itu juga, saya nyaris tidak pernah mengkritik penampilan psm. Mengapa? Karena kalau saya saja tidak bangga, siapa lagi yang bisa bangga dengan penampilan psm. Saya seringkali dag dig dug rasanya kalau psm mau tampil. Mengapa? Karena kalau jelek, pasti saya yang dipanggil terlebih dahulu. Pasti saya yang disuruh menjaga teman-teman. Mengontrol teman-teman agar jangan terulang lagi. Kalau uang bayarannya berkurang, ya itu risiko saya. Tapi melihat teman-teman bangga dengan apa yang mereka tampilkan terkadang membuat saya terharu. Tidak bisa marah. Dan hanya mengungkapkan masalah ke beberapa pihak saja.
Sekarang, satu-satunya kesempatan saya melihat penampilan psm sebagai sebuah performansi. Saatnya saya melihat apa yang orang-orang lihat selama ini. Saatnya memberi kritikan tanpa perlu membuat sakit hati. Saatnya bersikap netral tanpa perlu melihat mereka adalah teman. Saatnya memuji karena memang itu yang baik. Saatnya berdiri dan bertepuk tangan karena memang memuaskan. Bukan karena rasa bangga atas kerja keras semata. Saatnya saya tidak peduli betapa kerasnya mereka berusaha. Saatnya saya hanya menilai dari hasil. Tapi bodoh. Bodoh sekali. Satu-satunya kesempatan dan saya tidak sigap. Semoga masih ada jalan lain.
~Edisi galau
Mereka masih cilik
Kalau tidak mau disebut bocah
Kita sudah bangka
Kalau tidak mau disebut tua
Mereka hanya butuh 1 jam
Kita butuh berminggu-minggu
Mereka hanya diam
Kita perlu berteriak
Mereka biasa saja
Kalau melihat keseluruhan
Kita pun tidak istimewa
Kalau melihat sebagian kecil
Mereka jarang bagus
Kita tidak selalu buruk
Mereka diajari
Kita mengajari
Lalu
Mengapa mereka bisa
Bukannya tidak bisa
Kita hanya belum
Nb: Mereka menggerakkan jari, Kita membuka mulut
Menjadi pengurus dari sebuah organisasi itu berjuta rasanya (berlebihan), Tapi ya memang begitu, mau diapain lagi. Bertemu banyak orang baru, bertemu banyak masalah baru, dan bertemu banyak orang yang doyan membuat masalah. Soft skill saya benar-benar diuji. Bagaimana menghargai orang yang tidak menghargai kita sama sekali.
Tapi ibarat buah-buahan, semakin ada rasa semakin dicari. Mau itu manis, mau itu asem, pasti akan tetap berkesan di lidah meskipun buahnya sudah habis ditelan.
Paduan Suara Mahasiswa Institut Teknologi Bandung. Entah sebuah keuntungan atau kerugian, dari sejak awal saya masuk ke unit (sebutan untuk organisasi mahasiswa di ITB) ini saya hanya menggeluti satu bidang saja. Bidang yang itu-itu saja saya jalani hampir selama 4 tahun. Apa untungnya? Saya jadi tidak perlu belajar lagi setiap tahunnya. Tidak perlu melakukan apapun yang baru dan beradaptasi lagi. Semuanya nyaris tidak ada perubahan sejak saya pertama kali menyentuh bidang ini. Tapi ini semua membuat saya terlalu nyaman. Saya jadi tidak menurunkan ilmu apapun kepada mereka-mereka yang nantinya akan menggantikan saya. Merasa bersalah? Tentu. Karena saya juga belajar sendiri. Kesal rasanya ketika kita bahkan tidak tahu apa yang harus kita pelajari. Saya tidak mau nanti mereka begitu. Meskipun saya sudah tidak di sini lagi. Feel free to ask me about anything! Tapi satu catatan, hargai setiap orang yang mengajari. Seberapapun tidak penting informasi yang dia berikan. Itu risiko kita karena bertanya dan mengharapkan jawaban. Dan itu juga risiko kita mengharapkan jawaban yang terbaik. Padahal belum tentu kita mengajukan pertanyaan yang baik pula.
Bersama sekitar 20 orang dalam kepengurusan, akhirnya waktunya datang juga untuk kami 2007. Terharu rasanya melewati masa-masa galau, labil, ngambek, marah, tegas, kesal, dan sedikit hal menyenangkan lainnya. Terima kasih telah membantu, terima kasih telah memberi pengalaman berharga, terima kasih telah bersedia diperlakukan oleh saya, PSM ITB. Setelah ini, purna sudah tugas saya. Semoga kita tidak pernah bertemu lagi, bukan karena saya tidak bersedia, tapi karena ada banyak yang lebih baik lagi menunggu di sana.
Maret dua ribu sebelas
Bukan masalah waktu
Bukan tentang bulan atau tahun
Tapi sikap
Saatnya bertanggung jawab
Meskipun harus saya yang menanggung
Saya pula yang menjawab
Terima kasih telah belajar
Terima kasih telah bermain
Bersama
Yth. Bu Sasanti,
Kenang2an untuk tim koor ITB Ibu.
Salam.
Terharu rasanya ketika ada yang memperhatikan kita. Mengharapkan kita bisa memberikan yang terbaik. Mendukung pencapaian tersebut. Tidak hanya mengkritik tanpa memberikan solusi. Sama halnya sebuah parcel berisi kosmetik dari Tempo Group tersebut. Diberikan karena katanya, "Kok nyanyi kayak orang abis bangun tidur gitu."
~Padahal, bukannya bangun tidur adalah saat terbaik untuk melihat sesuatu secara natural tanpa embel-embel ya?! :D
sumber: random facebook photos
@gracemunthe: Rapat bersama FPS-IICC. SEMANGAT!
Kicauan dari seorang teman di akun jejaring twitternya membuat saya tiba-tiba teringat FPS dan IICC tahun lalu. Untuk yang tidak tahu apa itu, silahkan tanyakan saja kepada mba
h gugel dengan kata kunci FPS ITB dan 1st ITB Internasional Choir Competition. Sebenarnya ada situs resmi yang telah kami buat, tapi domainnya belum diperpanjang. Maklum, duit kan bukan seperti air yang mengalir begitu saja dari kran. Jadi saatnya menggunakan mbah gugel!
Disadari atau tidak, FPS dan IICC ini adalah loncatan terbesar dalam hidup anggota PSM ITB. Garis besarnya, dua momen ini adalah lom
ba paduan suara, yang satu tingkat nasional yang satu lagi tingkat internasional dimana anggota PSM yang menyelenggarakannya. Saya sendiri tidak akan membahas seberapa besar acara itu, bagaimana keberhasilannya, namun jauh lebih penting adalah pengaruhnya bagi diri sendiri. Ibaratnya, sebelum FPS berlangsung, skill saya cuma dapet nilai 2. Tapi, seiring dengan banting tulang, peres keringat, gali lubang, potong rambut, cukur jenggot,dan potong kuku, bertambahlah skill tersebut menjadi 7.
Coba tanyakan kepada anggota PSM ITB, saya berani bertaruh tidak mungkin ada yang tidak ingat acara itu! Setelah diadakan tahun 2010, rencananya kedua acara ini akan diadakan kembali di tahun 2012. Perjuangan dimulai kembali. Ibaratnya, belajar bersama kembali, dan mencoba rendah hati. Kedua acara ini bukan untuk main-main. Bukan hanya semata untuk menambah pengalaman di Curriculum Vitae, terlihat penting dan sibuk, ataupun memerintah seenaknya. Inilah saatnya menyadari bahwa ujian besar itu di depan mata, dan bukan saatnya menyombongkan bahwa saya memiliki ujian besar lho di depan mata! Apalah artinya penghargaan orang terhadap kita? Apa maknanya ketika orang tahu kita memiliki tugas berat? Kekaguman? Kesombongan? Tidak ada gunanya! Jangan pernah berpikir untuk menjalani sesuatu karena mengharapkan pandangan dari orang. Tapi jalani, karena itu berguna untuk diri sendiri dan diri kita sendiri dapat berguna untuk itu. Kurangi euforia. Jalani dengan diam. Bahasa gaulnya, Keep Calm and Let's Do It.
Selamat bekerja teman-teman!!
~Tulisan ini dibuat untuk menyinggung seseorang: diri saya sendiri. Poor me..