30 Menit Masuk Indonesia Melalui Husein Sastranegara
Gua memang bukan seorang frequent flyer. Makanya malam ini, barusan banget, untuk pertama kalinya gua masuk Indonesia melalui Husein Sastranegara. Bandara Bandung punya.
Berapa waktu yang biasanya dihabiskan seseorang mulai dari turun pesawat sampe berada di dalam kendaraan menuju tempat tujuan? Gua rasa beberapa bandara butuh lebih dari 30 menit. Tapi tergantung juga berapa jumlah penerbangannya, seberapa sibuk bandara tersebut, dan banyak faktor lainnya. Nah, kali ini, gua ga inget persis berapa waktu yang gua butuhkan mulai dari turun pesawat, sampe berada di mobil menuju rumah. Tapi kayaknya sih sekitar 30 menitan. Dan layaknya seseorang yang baru berkunjung ke Bandung, dalam waktu sekian menit itu gua ibarat seorang asing yang mencoba mencerna apa kesan pertama yang Husein berikan kepada penumpangnya.
- Masuk gedung Husein Sastranegara, gua liat apaan tuh di sisi kanan pintu masuk ada meja kecil. Ternyata ada tulisan "Visa On Arrival". Meja yang sangat kecil dan gua yakin kalau orang yang mau buat aplikasi lebih dari 5 orang, antriannya bisa menutupi pintu masuk imigrasi secara melintang. Saat itu, ada sekitar 3-4 orang di meja itu, berkerumun. Layaknya mengerumuni dagangan.
- Menuju antiran untuk imigrasi, ada bapak-bapak bilang begini "Ya, Indonesia kiri, Malaysia kanan." Layaknya sebuah pertandingan sepakbola antara Indonesia lawan Malaysia di dalam lorong di mana masing-masing personel antre, tidakkah kau tahu Pak bahwa pengunjung Husein (meskipun memang mayoritas) tidak hanya orang Malaysia.
- Loket imigrasi dibedakan dua (WNI dan WNA) dengan masing-masing hanya 1 loket imigrasi. Sebenernya menurut gua itu ga masalah selama semuanya lancar-lancar saja. Nah, masalahnya adalah ada penumpang yang disable gitu jadi pake jalur khusus. Sampai sini gua masih mengerti. Yang gua ga ngerti adalah yang nganternya itu bejibun! Dan mereka semua potong kompas antrian. Otomatis kite-kite yang udah lari-larian biar ga kelamaan di imigrasi melapuk nungguin mereka-mereka beres ngecap.
- Lajur pengambilan bagasi yang hanya selebar beberapa puluh jengkal tangan. Bayangkan dengan terhambatnya penumpang di imigrasi, otomatis jumlah koper yang terabaikan berlipat-lipat dan luas area yang tersedia paling hanya sebesar kamar gua ini yang biasa gua isi seorang diri.
- Lembar custom. Nah lembar ini agak-agak ga konsisten. Katanya satu keluarga/rombongan cukup satu aja. Tapi kan orang-orangnya pasti kepencar dong ya, toh imigrasinya ngantri. Jadi terjadilah perbincangan: P:"Mana lembar customnya." G:"Oh,satu keluarga pak." P:"Berapa orang?" G:"Empat orang.Bapak, ibu, anak." P:"Ah,masa empat sih. Perasaan baru dua orang yang keluar." *saat itu juga gua pengen jawab:ah, bapak kebanyakan pake perasaan.tapi ga tega ngomongnya G:"Oh,kurang tau saya pak.Saya kan antri imigrasi.Jadi mana bisa meratiin siapa yg udah keluar siapa yg msh ambil bagasi." P:"Oh." Itu adalah perbincangan paling ga penting yang pernah gua lakukan dengan petugas bermuka sok-sok tegas padahal dia ga tau gua punya tampang lebih ganas dari itu.
- Nah, akang-akang sini pengen tau aja kita beli apaan di bandara sebelumnya padahal jelas-jelas kantongnya ada tulisannya duty free. Kayaknya lain kali perlu pake kantong tulisannya barang yang dibeli apaan sama berapa banyak. Biar akang-akangnya ga usah sok kepo cek cek sana sini lagi.
- Ini yang baru gua sadari setelah sekian puluh kali ke Husein Sastranegara: Kita ga bisa masuk bandara ini, meskipun cuma drop off doang tanpa membayar iuran parkir. Sejauh perjalanan hidup gua, baru kali ini gua liat ada bandara yang kudu bayar parkir meskipun cuma drop off doang.
- Tempat parkirnya ga jauh beda bahkan lebih buruk dari parkiran stasiun Bandung. Becek, melintang sana sini ga puguh. Ga ada garis parkir yang jelas, parkirnya saling tumpang tindih, ada lubang besar disana sini.
- Sabotase taksi. Yang ini ga perlu dijelasin lagi. Silahkan dicoba sendiri aja. Dan ga cuma Husein yang punya, bandara lain di beberapa kota juga bertipikal serupa.
Itu baru pengalaman 30 menit bersama Husein. Dengan jumlah penerbangan internasional yang meningkat tajam dari tahun ke tahun, sepertinya hal-hal lainnya tidak ikut-ikutan juga ya. Dan, karena gua bukan orang yang ahli di bidang beginian, jadi gua cuma bisa ngeluh. Ga jauh beda sama pembantu.