Sakit Otak Kosong

Bukan berarti sehari-hari otak ini ada isinya juga sih, tapi setidaknya ada yang dipikirkanlah. Tapi akhir-akhir ini otak kosong bukan karena memang tidak ada yang perlu dilakukan (atau setidaknya dipikirkan) tapi ya memang lagi tidak bisa diisi saja. Hidup dengan tidak punya rencana apa-apa. Bahkan besok atau 2 hari lagi saya akan di mana mau apa saja tidak dipikirkan (atau tidak terpikirkan). Padahal kan punya rencana itu tidak harus ya, gelandangan saja yang tidak tahu akan tidur di mana malam ini bisa tetap bertahan. Tapi kok ya rasanya ketika orang sekitar tahu untuk apa  dia mengerjakan sesuatu sementara saya tidak, ini saya yang bodoh atau saya yang dibodoh-bodohi diri sendiri. 

Sering tidak sih kita mengambil keputusan karena orang sekitar kita melakukannya. Takut menjadi beda, dan merasa menjadi "yang sama" membuat lebih nyaman. Nanti pasti akan ada waktunya dimana kita menyesal. Menyesal bukan karena tidak mengikuti pilihan hati. Tapi karena ternyata kita memang tidak sempat membuat pilihan. 

Dscn0758
Nah untuk yang tidak pernah merasa melakukannya, coba deh kosongkan pikiran, tendang kepala Anda kalau perlu sampai amnesia dan renungkan bagaimana rasanya. Coba apa yang Anda sesali. Kalau Anda masih menyesali karena rasa sakit dan memar, berarti otak Anda kosong. Karena seharusnya Anda menyesal karena banyak memori yang hilang. Memori itu tidak hanya tentang masa lalu, tapi juga rencana masa depan. Keduanya tidak boleh hilang kalau ingin merasa tetap "hidup". 

~Ah, sok menggurui sok tahu kamu, Shelty! Yah, setidaknya ini berguna untuk diri saya. Karena itu saya menulis di sini bukan? Bukannya malah berkicau yang sok (tidak) kacau.

Selesai Sudah Tugas Saya untuk Duduk di Bangku

Kemarin, pukul 09.00.00 AM adalah saksi bahwa kami (saya dan sebagian besar teman) tuntas sudah menunaikan kewajiban selama 4 tahun di sini. 4 tahun meen!!!! Dan sebentar lagi kami sudah bukan mahasiswa. Sementara diri sendiri ini belum memiliki rencana akan menjadi apa nanti. Jangankan rencana setelah lulus, rencana 1 bulan ke depan saja saya tidak tahu apa-apa. Stress? Tidak. Karena rencana itu sudah ada, cuma kita saja yang belum mengetahuinya. Good luck semuanya untuk yang akan beres kuliah dan menjadi pengangguran!!!

~Nb: sebenernya ini stress tapi kok ya ga bisa menunjukkan kestressan saya itu ya

Sirik Tanda tak Mampu?

Dari lubuk hati yg paling dalam, gw salut dengan orang yang sirik. Menurut gw, sirik itu bukan tanda dia tidak mampu. Tapi berarti dia masih punya mimpi.

Mari kita berkaca dulu. Sejujurnya, dalam hidup, gw belum pernah yg namanya kecewa atau mengalami kegagalan besar. Apakah karena gw selalu berhasil, makanya gw tidak pernah sirik dengan keberhasilan orang lain? Bukan! Gw tidak pernah gagal atau kecewa karena gw tidak pernah punya mimpi besar. Menyedihkan, bukan?

Gw ikutan tes ini itu, ujian sana sini, dan kemudian gagal. Gw tidak pernah kecewa. Mengapa? Karena gw tidak pernah meletakkan itu dalam mimpi gw. Gw penganut aliran bahwa Tuhan yang menentukan. Karena itu, di setiap hal apapun itu, gw selalu merasa bahwa gw cukup memberikan yang terbaik. Bukan. Bukan karena ingin berhasil di situ. Tapi dengan memberikan yang terbaik dan kemudian gagal, itu berarti Tuhan punya rencana lain buat gw. 

Gw merasa bahwa berhasil dan sukses dalam suatu hal berarti ya memang itu sudah takdirnya. Sesuai dengan perjuangan yang telah diberikan. Karena itu, suatu hari gw pernah ditanya seseorang.

"Apa kegagalan terbesar dalam hidup Anda?"

Tidak ada. Karena gw memang orang yang tidak suka bermimpi. Bahkan dari hal kecil sampai hal besar, misalkan masuk kampus mana. Gw tidak bermimpi dan memohon kepada Tuhan bahwa gw harus masuk ITB. Tapi gw berdoa bahwa "Tuhan tolong berikan yang terbaik." Sesuai dengan semangat dan kerja keras yang gw berikan. That's it!! Dengan begitu kita tidak akan pernah kecewa. Percaya, deh! Atau kalaupun seandainya kita gagal, itu berarti kerja keras kita kurang maksimal. Tapi kalau seandainya kerja keras kita sudah maksimal dan tetep gagal, itu berarti memang takdir kita bukan di sana.

Simple? Yap! "Hidup itu sederhana. Tapi kita yang seringkali terlalu pusing memikirkannya."

Gw tidak tahu apakah sifat gw ini bagus atau tidak untuk hidup sebenernya. Tapi gw menikmatinya. Sedikit berencana, karena yakin Tuhan sudah menentukannya. Tapi bukan berarti tidak berusaha, karena Tuhan membuat keputusan berdasarkan usaha manusia. 

"Sedikit kecewa, semakin banyak keberhasilan yang didapat."

Ah, hidup ini memang penuh warna ya.. Tinggal bagaimana kita memaknai warnanya. Kalau untuk saya pribadi sih, warna-warna itu sudah ditentukan. Cukup kita menyadari saja bahwa semua warna itu pada dasarnya indah. 

Dsc00258
Ceritanya ini terpeleset ketika mendaki gunung

~Based on my favorite quote: Life is very simple, but we insist on making it complicated. Anonym

 

Berdoa

Kata orang sih hidup itu jangan terlalu banyak berencana tapi banyak-banyaklah berdoa. Berdoa untuk apa yang sedang dijalani dan apa yang akan kita hadapi. Mau itu tentang cita ataupun cinta, yang penting jangan lupa berdoa dan yang membaca ini tolong jangan lupa mengaamiinkan. 

Bismillah

source

Nb: Saat ini saya masih berdoa di seputaran kelancaran TA, Pekerjaan, dan Keluarga. *Jangan lupa diaamiinkan ya*

Emansipasi Nanggung

Nb: Ini adalah cerita yang cukup membosankan. Silahkan dilewat jika anda mengharapkan sesuatu yang membuat tawa.

Alkisah ada seorang gadis bertanya. Bukan pada orang tua, bukan pada guru, tapi pada dirinya sendiri.

"Mengapa orang terkadang terkesan memaksakan emansipasi. "

Ketika semua wanita diharuskan menuntut ilmu setinggi mungkin dan kemudian ketika menikah, justru tidak sedikit yang akhirnya kembali ke kodratnya. Menjaga dapur rumah tangga.

Emansipasi nanggung.

Tidak ada manfaat akhir yang didapat. Namun akhirnya dia (sang gadis) menemukan jawabannya. Bukan dari bertanya, bukan dari membaca, tapi dari kehidupannya. Belajar dari apa yang dia rasakan semenjak memutuskan akan menjadi penjaga dapur sampai akhirnya menemukan salah satu jawabannya. 

Bayangkan saja. Berkuliah susah-susah. Menguras keringat. Membanting tulang. Mengasah otak. Selama sekitar 4 tahun. Namun pada akhirnya apa yang dia pelajari tidak menjadi apa-apa. Tidak dia bagi. Tidak dia terapkan. Dan akhirnya hanya mengendap di otak. Lalu untuk apa dia bersusah payah? 

Tahukah apa yang menjadi nilai dari seorang manusia? Menurut saya, hanya ada dua hal. Agama dan pendidikan. Ingatkah pepatah yang mengatakan bahwa wanita baik-baik akan mendapatkan pria baik-baik pula? Itulah yang terjadi dengan emansipasi nanggung. 

Bayangkan, kalau saya tidak mau sekolah. Bayangkan kalau saya merasa bisa membaca menulis dan berhitung itu sudah cukup untuk menjadi seorang manusia. Mungkin iya. Tapi apa itu cukup untuk menciptakan sebuah keluarga yang bernilai?

Apakah seorang tamatan SD seringkali mendapatkan pasangan Sarjana?

Siapa yang seringkali menjadi pasangannya? Paling tamatan SD juga. Atau ya tamatan SMP dan mungkin terkadang ada yang tamatan SMA. Bukan bermaksud mengelompokkan manusia. Tapi pendidikan masih dianggap nilai dari sebuah manusia. Bayangkan kalau saya tidak mau membuka diri. Cukup sampai SD. Saya tidak akan pernah tahu kapan keringat itu akan terkuras. Kapan otak ini akan bekerja keras. Karena potensi diri itu harus diusahakan sendiri. Bukan oleh orang lain, tapi oleh diri sendiri. 

Sekarang bayangkan saya hanya tamatan SD yang punya cita-cita ingin menjadi seorang ibu dari sebuah keluarga yang bernilai. Apakah saya sendiri telah menunjukkan nilai? Tidak. Saya harus menuntuk ilmu setinggi mungkin karena saya harus memiliki keluarga yang bernilai. Bernilai dari sisi pendidikan. Saya pun harus menunjukkan nilai yang saya punya. 

Pendidikan bukan lagi masalah kamu akan bekerja di mana ketika lulus. Gaji seberapa besar yang akan kamu dapat. Tapi pendidikan lah yang menbentuk nilai sebuah keluarga bagi seseorang. Pendidikan adalah tentang berapa nilai yang kamu punya. Pasangan seperti apa yang pantas kamu dapatkan. Keluarga apa yang akan kalian ciptakan. Apakan akan ada anak-anak yang bernilai nantinya? 

Jadi, tidak ada itu namanya emansipasi nanggung. Karena setiap wanita pasti memiliki mimpi dan kami memiliki cara masing-masing untuk mewujudkannya. Tidak harus dengan cara yang termudah.

Bukankah yang sulit dan berpeluh memberi arti lebih dalam hidup?

#Adalah

Adalah hak pribadi masing-masing untuk mengungkapkan apa rencana yang sedang dikerjakan. Tapi kalau saya adalah bagian dari rencana itu, bukankah sebaiknya bertanya apa saya bersedia diungkapkan atau tidak. 

Karena rencana biasanya akan berjalan baik bukan karena dukungan dari sekitar. Tapi lebih seberapa banyak keringat dikucurkan. Bukan keringat untuk menanggapi pendapat orang sekitar. Tapi keringat untuk membanggakan orang sekitar dengan melihat hasil. Biarlah kerja keras hanya menjadi milik kita dan hasil yang kita bagi dengan sekitar. Bukankah lebih membanggakan ketika orang tahu kita telah berhasil tanpa perlu tahu bagaimana kita mencapainya dibandingkan orang tahu kita telah bekerja keras untuk sebuah kegagalan. Belas kasihan itu tidak perlu. Biarlah penyesalan dan kesedihan menjadi milik pribadi.

~Membagi kebahagian itu ibadah kan ya? 

Galau Sekonyong-konyong

Penyesalan itu memang tidak pernah datang di awal. Coba bayangkan, dalam beberapa menit, dari yang tidak peduli, tiba-tiba jadi menyesal dan merasa itu sebuah kebutuhan. Kenapa? Karena ini satu-satunya kesempatan saya, Kita tidak pernah tahu di depan akan seperti apa. 

Jadi,selama bertahun-tahun melanglang buana di dunia perproyekan psm (lebay), bekerja sama dengan banyak pihak, dan menjembatani setiap penampilan psm, saya nyaris tidak pernah menikmati psm sebagai sebuah performansi. Saya malah menganggapnya sebagai sebuah pekerjaan. Tidak lebih. Karena itu bagi saya, tampil baik itu perlu. Tidak untuk memuaskan penonton, tapi lebih untuk menjalin komunikasi dengan penyelenggara. Selama sekian kali itu juga, saya nyaris tidak pernah mengkritik penampilan psm. Mengapa? Karena kalau saya saja tidak bangga, siapa lagi yang bisa bangga dengan penampilan psm. Saya seringkali dag dig dug rasanya kalau psm mau tampil. Mengapa? Karena kalau jelek, pasti saya yang dipanggil terlebih dahulu. Pasti saya yang disuruh menjaga teman-teman. Mengontrol teman-teman agar jangan terulang lagi. Kalau uang bayarannya berkurang, ya itu risiko saya. Tapi melihat teman-teman bangga dengan apa yang mereka tampilkan terkadang membuat saya terharu. Tidak bisa marah. Dan hanya mengungkapkan masalah ke beberapa pihak saja. 

Sekarang, satu-satunya kesempatan saya melihat penampilan psm sebagai sebuah performansi. Saatnya saya melihat apa yang orang-orang lihat selama ini. Saatnya memberi kritikan tanpa perlu membuat sakit hati. Saatnya bersikap netral tanpa perlu melihat mereka adalah teman. Saatnya memuji karena memang itu yang baik. Saatnya berdiri dan bertepuk tangan karena memang memuaskan. Bukan karena rasa bangga atas kerja keras semata. Saatnya saya tidak peduli betapa kerasnya mereka berusaha. Saatnya saya hanya menilai dari hasil. Tapi bodoh. Bodoh sekali. Satu-satunya kesempatan dan saya tidak sigap. Semoga masih ada jalan lain. 

~Edisi galau

Duduk sama tinggi, berdiri sama rendah

Mereka masih cilik
Kalau tidak mau disebut bocah

Kita sudah bangka  
Kalau tidak mau disebut tua

Mereka hanya butuh 1 jam
Kita butuh berminggu-minggu

Mereka hanya diam
Kita perlu berteriak

Mereka biasa saja
Kalau melihat keseluruhan

Kita pun tidak istimewa
Kalau melihat sebagian kecil

Mereka jarang bagus
Kita tidak selalu buruk

Mereka diajari 
Kita mengajari

Lalu
Mengapa mereka bisa

Bukannya tidak bisa
Kita hanya belum

Nb: Mereka menggerakkan jari, Kita membuka mulut